Pusat Jasa Kontraktor Backdrop Booth Jabodetabek

Cara Mengukur ROI Event dan Brand Activation dengan KPI yang Tepat

cara mengukur ROI event

Mengadakan pameran, product launching, atau brand activation membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Perusahaan perlu menyiapkan anggaran untuk produksi booth, backdrop, properti visual, tenaga kerja, transportasi, materi promosi, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya.

Namun, setelah event selesai, pertanyaan yang sering muncul bukan hanya apakah acara berjalan lancar atau ramai dikunjungi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah investasi tersebut memberikan hasil sesuai tujuan bisnis?

Untuk menjawabnya, tim marketing perlu memahami cara mengukur ROI event dan menentukan indikator kinerja atau Key Performance Indicators (KPI) yang relevan sejak awal.

Mengukur keberhasilan event tidak selalu berarti menghitung penjualan secara langsung. Event yang bertujuan memperkenalkan produk baru, misalnya, mungkin lebih berfokus pada jangkauan audiens, interaksi, dan pengumpulan prospek. Sementara pameran B2B dapat lebih menekankan kualitas calon pelanggan, peluang kerja sama, dan kontribusi terhadap pipeline penjualan.

Karena itu, evaluasi event sebaiknya menggabungkan indikator operasional, pemasaran, dan hasil bisnis sesuai tujuan kampanye.

1. Bedakan Tujuan Event, KPI, dan ROI

Sebelum menentukan angka yang akan dilaporkan, pahami terlebih dahulu perbedaan tiga istilah ini.

Tujuan event adalah hasil utama yang ingin dicapai perusahaan. Contohnya meningkatkan pengenalan brand, memperkenalkan produk baru, mendapatkan prospek B2B, atau mendorong penjualan.

KPI adalah indikator yang digunakan untuk menilai apakah kegiatan bergerak menuju tujuan tersebut. Contohnya jumlah prospek berkualitas, jumlah demonstrasi produk, tingkat interaksi, atau jumlah transaksi yang dapat diatribusikan ke event.

ROI (Return on Investment) adalah ukuran pengembalian investasi yang membandingkan hasil finansial dengan biaya investasi yang dikeluarkan.

Ketiganya saling berkaitan, tetapi tidak bisa saling menggantikan. Jumlah pengunjung yang tinggi belum tentu menghasilkan prospek berkualitas. Begitu pula, banyaknya interaksi di booth tidak otomatis menunjukkan bahwa event menghasilkan keuntungan finansial.

Misalnya, sebuah brand mengadakan aktivasi untuk membangun pengenalan produk. Dalam konteks tersebut, jangkauan dan interaksi mungkin menjadi KPI penting. Namun, jika tujuan utama perusahaan adalah menghasilkan penjualan, pengukuran perlu dilanjutkan hingga transaksi dan kontribusi laba dapat dianalisis.

Langkah pertama adalah memastikan bahwa indikator yang dipilih benar-benar mencerminkan tujuan kegiatan.

2. Tentukan Target Sebelum Event Dimulai

Evaluasi akan lebih mudah dilakukan jika tim sudah menentukan target sebelum kegiatan berlangsung. Tanpa target awal, laporan berisiko hanya menjadi daftar angka tanpa konteks yang jelas.

Mulailah dengan menyepakati satu tujuan utama dan beberapa indikator pendukung.

Sebagai contoh, untuk event B2B yang berorientasi pada prospek, target dapat meliputi jumlah leads yang memenuhi kriteria tertentu, jumlah pertemuan dengan calon klien, dan jumlah peluang penjualan yang terbentuk.

Untuk brand activation di area publik, indikatornya dapat berupa jumlah partisipasi, demonstrasi produk, interaksi dengan instalasi, atau jumlah orang yang mendaftar ke program tertentu.

Target sebaiknya dibuat berdasarkan kapasitas tim, karakter event, profil audiens, dan pengalaman kampanye sebelumnya jika tersedia. Hindari menetapkan angka hanya karena terlihat ambisius tanpa dasar perencanaan.

Selain target, tentukan pula definisi setiap KPI. Misalnya, siapa yang dihitung sebagai pengunjung booth, kapan seseorang dikategorikan sebagai lead, dan data apa yang membuat lead dianggap berkualitas.

Definisi yang konsisten membantu tim membandingkan hasil antarhari, antara venue, atau antara kampanye dengan lebih adil.

3. Catat Seluruh Biaya untuk Mengetahui Investasi yang Sebenarnya

Perhitungan ROI tidak akan akurat jika hanya menggunakan biaya produksi booth sebagai total investasi. Sebuah event biasanya memiliki beberapa kelompok biaya yang perlu diperhitungkan.

Biaya yang relevan dapat mencakup:

  • Desain dan produksi booth, backdrop, display, serta properti visual.
  • Sewa area atau biaya partisipasi event.
  • Transportasi, logistik, instalasi, dan pembongkaran.
  • Tenaga kerja, kru operasional, dan kebutuhan perjalanan.
  • Materi promosi, sampel produk, serta hadiah aktivitas.
  • Teknologi pendukung, seperti perangkat registrasi atau demonstrasi.
  • Promosi sebelum acara dan tindak lanjut setelah acara.
  • Biaya lain yang secara langsung diperlukan untuk menjalankan kampanye.

Tidak semua kegiatan memiliki komponen biaya yang sama. Karena itu, buat daftar sesuai kondisi aktual dan tetapkan batas perhitungan yang konsisten.

Jika beberapa aset akan digunakan dalam banyak event, jangan langsung membebankan seluruh biaya aset tersebut ke satu kegiatan tanpa mempertimbangkan kebijakan pencatatan yang digunakan perusahaan. Tim dapat menentukan pendekatan alokasi yang sesuai dan menerapkannya secara konsisten.

Tujuannya bukan sekadar mendapatkan angka biaya yang besar atau kecil, melainkan mengetahui berapa investasi yang benar-benar digunakan untuk menghasilkan keluaran kampanye.

4. Gunakan KPI Sesuai Tahapan Customer Journey

Salah satu kesalahan dalam evaluasi event adalah mengandalkan satu indikator untuk semua tujuan. Padahal, efektivitas kampanye bisa dinilai melalui beberapa tahap, mulai dari pengenalan, interaksi, pengumpulan prospek, hingga hasil bisnis.

KPI awareness atau pengenalan brand

KPI ini relevan ketika tujuan event adalah memperluas eksposur kepada audiens yang sesuai.

Metrik yang dapat dicatat meliputi jumlah audiens yang terjangkau berdasarkan metode pengukuran yang tersedia, jumlah kunjungan ke area aktivasi, jangkauan konten digital, atau jumlah penyebutan brand yang dapat diverifikasi.

Penting untuk membedakan antara estimasi traffic venue dan jumlah orang yang benar-benar melihat atau berinteraksi dengan brand. Jangan menganggap semua pengunjung lokasi sebagai audiens yang terpapar kampanye.

KPI engagement atau interaksi

Jika kampanye dirancang untuk mengajak pengunjung mencoba produk atau berpartisipasi dalam aktivitas, ukur tingkat interaksi yang relevan.

Contohnya jumlah demonstrasi produk, peserta permainan, pengunjung yang mencoba produk, pemindaian QR code, atau partisipasi dalam program tertentu.

Pilih metrik yang dapat dicatat dengan metode jelas. Jika ingin mengukur tingkat partisipasi, misalnya, tim perlu mengetahui jumlah pengunjung yang memenuhi syarat sebagai pembanding.

KPI lead atau prospek

Untuk pameran B2B dan event yang berorientasi pada penjualan, data prospek menjadi salah satu indikator utama.

Metrik yang dapat digunakan adalah total leads, leads yang sesuai profil pelanggan ideal, jumlah pertemuan lanjutan, dan jumlah peluang penjualan yang terbentuk setelah event.

Penting untuk memisahkan jumlah kontak yang terkumpul dari jumlah prospek berkualitas. Data yang tidak lengkap, kontak yang tidak relevan, atau pengunjung yang hanya mengikuti aktivitas berhadiah tidak selalu memiliki nilai bisnis yang sama.

KPI konversi dan hasil bisnis

Jika event bertujuan menghasilkan transaksi, ukur jumlah pembelian, nilai penjualan yang dapat diatribusikan, margin kontribusi, atau jumlah peluang yang akhirnya menjadi pelanggan.

Karena siklus penjualan B2B bisa panjang, hasil evaluasi tidak harus berhenti pada hari terakhir event. Tetapkan jangka waktu pengukuran yang sesuai dengan proses penjualan perusahaan dan gunakan metode atribusi yang dijelaskan dengan jelas.

5. Hitung Cost per Lead dan Kualitas Prospek

Cost per Lead (CPL) membantu tim memahami berapa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh satu prospek berdasarkan definisi dan lingkup biaya yang digunakan.

Rumus sederhananya:

CPL = Total biaya kampanye ÷ Jumlah leads yang diperoleh

Sebagai contoh ilustratif, sebuah event membutuhkan biaya Rp60.000.000 dan menghasilkan 120 leads. Jika seluruh biaya tersebut digunakan dalam perhitungan, CPL-nya adalah Rp500.000 per lead.

Namun, angka CPL belum cukup untuk menentukan keberhasilan. Kampanye dengan CPL rendah bisa menghasilkan banyak kontak yang kurang relevan, sementara kampanye dengan CPL lebih tinggi mungkin menghasilkan prospek yang lebih dekat dengan keputusan pembelian.

Karena itu, periksa juga kualitas leads. Salah satu metrik yang bisa digunakan adalah persentase leads berkualitas:

Lead qualification rate = Jumlah leads berkualitas ÷ Total leads × 100%

Misalnya, dari 120 leads yang masuk, 36 memenuhi kriteria prospek yang telah ditentukan. Tingkat leads berkualitas adalah 30%.

Definisi lead berkualitas harus disepakati bersama tim marketing dan sales. Kriterianya dapat mencakup kesesuaian perusahaan, kebutuhan yang relevan, posisi pengambil keputusan, atau kesiapan untuk melanjutkan pembicaraan.

Dengan menggabungkan CPL dan kualitas leads, tim mendapatkan gambaran yang lebih berguna untuk mengevaluasi efektivitas kampanye.

6. Pahami Cara Menghitung ROI Event

Untuk event yang hasil finansialnya dapat diukur, ROI dapat dihitung dengan membandingkan keuntungan finansial yang dihasilkan dengan total investasi.

Rumus yang umum digunakan adalah:

ROI (%) = (Keuntungan yang diatribusikan ke event − Total investasi event) ÷ Total investasi event × 100%

Bagian terpenting dalam rumus tersebut adalah memastikan bahwa angka keuntungan dan biaya dihitung dengan dasar yang konsisten.

Jika menggunakan laba atau margin kontribusi yang terkait dengan penjualan, perhitungan akan lebih bermakna dibanding hanya membandingkan omzet dengan biaya event. Omzet belum memperhitungkan biaya produk atau komponen pengeluaran lain yang memengaruhi keuntungan.

Contoh ilustrasi.

Sebuah perusahaan mengeluarkan biaya event sebesar Rp100.000.000. Setelah mengukur transaksi yang dapat diatribusikan ke event, perusahaan memperkirakan margin kontribusi dari penjualan tersebut sebesar Rp145.000.000 sebelum biaya event.

Maka:

ROI = (Rp145.000.000 − Rp100.000.000) ÷ Rp100.000.000 × 100%

ROI = 45%

Dalam ilustrasi ini, ROI sebesar 45% berarti margin kontribusi yang diatribusikan ke event melebihi investasi event sebesar 45% dari nilai investasi.

Angka tersebut baru dapat dipercaya jika biaya sudah dicatat secara tepat dan kontribusi penjualan tidak diklaim berulang oleh beberapa kampanye. Jika hasil finansial belum dapat ditentukan atau atribusinya masih lemah, laporkan KPI pemasaran terlebih dahulu dan jelaskan keterbatasan pengukurannya.

7. Bedakan Event yang Berhasil Menarik Perhatian dan Event yang Menghasilkan Nilai Bisnis

Event yang ramai belum tentu menghasilkan hasil bisnis yang diinginkan. Sebaliknya, event dengan jumlah pengunjung yang tidak terlalu besar dapat memberikan nilai yang baik apabila audiensnya tepat dan memiliki kebutuhan yang sesuai.

Bayangkan dua skenario berikut.

Skenario A: sebuah booth memperoleh banyak pengunjung, tetapi hanya sedikit yang memberikan data atau tertarik pada produk.

Skenario B: jumlah pengunjung booth lebih rendah, tetapi sebagian besar merupakan calon pembeli yang sesuai dengan target perusahaan dan bersedia melanjutkan diskusi.

Jika tujuan utama adalah menghasilkan prospek B2B, skenario kedua mungkin lebih relevan walaupun jumlah pengunjungnya lebih sedikit.

Karena itu, evaluasi perlu melihat konteks di balik angka. Catat siapa audiensnya, aktivitas apa yang paling banyak menarik perhatian, pertanyaan apa yang sering muncul, serta hambatan apa yang membuat pengunjung tidak melanjutkan interaksi.

Temuan tersebut dapat membantu tim memperbaiki konsep kampanye berikutnya, termasuk pilihan pesan, alur interaksi, materi promosi, dan kebutuhan visual booth.

8. Hubungkan Data Event dengan Tindak Lanjut Tim Sales

Dalam kampanye yang bertujuan menghasilkan leads, hasil event seharusnya diteruskan ke proses pemasaran dan penjualan setelah kegiatan selesai.

Pastikan data yang dikumpulkan memiliki informasi yang memadai, diperoleh secara sesuai, serta dapat ditindaklanjuti dengan dasar dan izin yang relevan.

Data sebaiknya dicatat dengan sumber kampanye yang jelas. Jika memungkinkan, gunakan CRM atau sistem pelacakan yang membantu tim mengetahui apakah sebuah kontak berasal dari event tertentu, aktivitas di booth, atau saluran pemasaran lain.

Setelah itu, pantau perkembangan leads sesuai siklus pembelian. Beberapa prospek mungkin siap dihubungi segera, sementara yang lain membutuhkan edukasi atau pertemuan lanjutan sebelum memutuskan.

Untuk mengevaluasi hasil event secara lebih lengkap, tim dapat mencatat berapa leads yang berhasil dihubungi, berapa yang memenuhi kriteria penjualan, berapa yang masuk ke pipeline, dan berapa yang akhirnya menjadi pelanggan.

Jangan langsung menganggap seluruh penjualan setelah event berasal dari kegiatan tersebut. Gunakan data sumber prospek dan pendekatan atribusi yang konsisten agar kontribusi event tidak dilebih-lebihkan.

9. Buat Laporan Evaluasi yang Bisa Dipakai untuk Keputusan Berikutnya

Laporan evaluasi yang baik bukan sekadar kumpulan angka. Laporan perlu menjelaskan tujuan awal, investasi yang digunakan, hasil yang dicapai, serta keputusan apa yang sebaiknya diambil setelahnya.

Struktur laporan dapat dibagi menjadi beberapa bagian:

Ringkasan tujuan dan target. Jelaskan alasan event diselenggarakan dan KPI yang telah disepakati.

Realisasi anggaran. Bandingkan anggaran rencana dengan pengeluaran aktual dan catat perubahan penting.

Hasil pemasaran. Tampilkan data awareness, engagement, leads, dan kualitas prospek sesuai kebutuhan kampanye.

Hasil penjualan. Jika datanya tersedia, laporkan peluang, transaksi, margin kontribusi, dan ROI dengan menjelaskan metode atribusinya.

Temuan operasional. Catat hal-hal yang berjalan baik maupun masalah pada alur pengunjung, materi visual, peralatan, atau pelaksanaan kegiatan.

Rekomendasi. Tentukan elemen yang perlu dipertahankan, diperbaiki, atau diuji dalam kampanye selanjutnya.

Untuk membantu evaluasi, dokumentasikan pula pelaksanaan event melalui foto, video, dan catatan tim. Dokumentasi ini dapat memberi konteks ketika tim membandingkan desain area aktivasi atau pengalaman pengunjung dari satu event ke event lain.

10. Gunakan Evaluasi untuk Menyempurnakan Produksi Event

Hasil pengukuran juga dapat membantu menentukan kebutuhan produksi pada event berikutnya.

Jika pengunjung kesulitan mengenali area brand, tim dapat mempertimbangkan perubahan visibilitas signage atau desain utama booth. Jika interaksi produk menjadi aktivitas yang paling relevan, layout dapat dirancang ulang agar area demonstrasi lebih mudah diakses.

Jika prospek yang masuk banyak tetapi kualitasnya rendah, perubahan mungkin tidak hanya diperlukan pada desain. Tim juga perlu mengevaluasi pesan promosi, mekanisme pengumpulan data, kriteria audiens, dan cara tim booth menjelaskan produk.

Di sisi lain, evaluasi biaya dapat membantu perusahaan menentukan apakah elemen produksi tertentu layak digunakan kembali, dimodifikasi, atau dibuat ulang untuk kampanye selanjutnya.

Jigsaw Production dapat dilibatkan dalam diskusi kebutuhan produksi seperti booth pameran, backdrop, dan display khusus agar rancangan visual sesuai dengan tujuan, aktivitas, serta kondisi venue.

Layanan booth pameran Jigsaw Production dapat menjadi salah satu titik awal untuk mendiskusikan kebutuhan produksi yang relevan dengan strategi event perusahaan.

Kesimpulan

Cara mengukur ROI event tidak cukup dengan menghitung jumlah pengunjung atau membandingkan penjualan dengan biaya secara sederhana. Evaluasi yang baik dimulai dari penetapan tujuan, pemilihan KPI yang relevan, pencatatan total investasi, serta pengukuran hasil yang dapat diatribusikan ke kegiatan tersebut.

Untuk event yang berorientasi pada awareness, indikator jangkauan dan interaksi mungkin menjadi prioritas. Untuk pameran B2B atau kegiatan yang berorientasi pada penjualan, kualitas leads, perkembangan pipeline, dan kontribusi finansial perlu mendapat perhatian lebih besar.

Dengan memisahkan indikator pemasaran dari ROI finansial serta mencatat proses pengukurannya secara konsisten, tim dapat membuat keputusan yang lebih baik mengenai anggaran, konsep, dan produksi event berikutnya.

Jika Anda sedang merencanakan pameran atau brand activation, pastikan kebutuhan produksinya dirancang sesuai tujuan kampanye. Jigsaw Production dapat diajak berdiskusi mengenai kebutuhan booth, backdrop, dan elemen visual untuk mendukung pelaksanaan event yang terencana.

Kunjungi website Jigsaw Production untuk mengenal layanan yang tersedia dan mendiskusikan kebutuhan produksi event Anda.